Jingga Dalam Elegi
singkat cerita :
"Gue selalu berdoa supaya keluarga gue bisa utuh lagi. Kumpul berempat kayak dulu ...
Begitu gue udah agak gede. Gue sadar kayaknya itu nggak mungkin.
Dan doa gue berubah. Gue cuma minta bisa bahagia.
Terserah Tuhan mau gimana bentuknya. mau tanpa alasan juga nggak apa-apa." -Ata-
"Lo ngeliatnya gue baik-baik aja, tapi sebenernya gue nggak baik-baik aja." -Ari-
"Anak-anak dari keluarga yang utuh memang cenderung sulit memahami apa yang dirasakan oleh anak-anak dari keluarga yang berantakan." -ata-
"Waktu keluarga kami masih utuh. kayak keluarga yang lain. waktu anggotanya masih lengkap. Belum ada kemarahan yang kami nggak ngerti. Belum ada kesalahapahaman yang berarti." -Ata-
"Walaupun keluarga kandung. Tapi kalo udah pisah rumah, rasanya kayak udah nggak sepenuhnya keluarga kandung lagi. Rasanya kayak setengah keluarga gitu deh. karena ada hal-hal tentang mereka yang kita nggak tau.
Walau masih satu rumah kita kan selalu tau orang tua kita, adik-kakak kita ngerjain apa aja. sehat atau enggak. kalo udah pisah, apalagi lumayan jauh. yang kita tau tinggal garis-garis besarnya aja. Padahal yang bikin keluarga jadi deket itu kan jusrtru hal-hal yang kecil. hal sepele, yang nggak penting banget, yang nggak keliatan dari luar. yang hanya jadi milik orang-orang didalam keluarga itu sendiri." -Ata-
"Ini takdir, Bukan salah siapa-siapa" -Ata-
"Karena gak ada lagi yang ngasih dia nafkah. Dan ada anak yang harus dia hidupin kan?" -Ata-
"Makan di rumah tuh paling enak bareng sama keluarga." -Ata-
"Bokapnya kak Ari tuh mikirin anaknya nggak sih? Sering ditinggalin gitu kan kasihan. Pantes aja tuh anak jadi badung banget." -Tari-
RESENSI
pengarang : Esti kinasih
penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
tahun terbit : 2011
jumlah halaman : 392
singkat cerita :
"Gue selalu berdoa supaya keluarga gue bisa utuh lagi. Kumpul berempat kayak dulu ...
Begitu gue udah agak gede. Gue sadar kayaknya itu nggak mungkin.
Dan doa gue berubah. Gue cuma minta bisa bahagia.
Terserah Tuhan mau gimana bentuknya. mau tanpa alasan juga nggak apa-apa." -Ata-
"Lo ngeliatnya gue baik-baik aja, tapi sebenernya gue nggak baik-baik aja." -Ari-
"Anak-anak dari keluarga yang utuh memang cenderung sulit memahami apa yang dirasakan oleh anak-anak dari keluarga yang berantakan." -ata-
"Waktu keluarga kami masih utuh. kayak keluarga yang lain. waktu anggotanya masih lengkap. Belum ada kemarahan yang kami nggak ngerti. Belum ada kesalahapahaman yang berarti." -Ata-
"Walaupun keluarga kandung. Tapi kalo udah pisah rumah, rasanya kayak udah nggak sepenuhnya keluarga kandung lagi. Rasanya kayak setengah keluarga gitu deh. karena ada hal-hal tentang mereka yang kita nggak tau.
Walau masih satu rumah kita kan selalu tau orang tua kita, adik-kakak kita ngerjain apa aja. sehat atau enggak. kalo udah pisah, apalagi lumayan jauh. yang kita tau tinggal garis-garis besarnya aja. Padahal yang bikin keluarga jadi deket itu kan jusrtru hal-hal yang kecil. hal sepele, yang nggak penting banget, yang nggak keliatan dari luar. yang hanya jadi milik orang-orang didalam keluarga itu sendiri." -Ata-
"Ini takdir, Bukan salah siapa-siapa" -Ata-
"Karena gak ada lagi yang ngasih dia nafkah. Dan ada anak yang harus dia hidupin kan?" -Ata-
"Makan di rumah tuh paling enak bareng sama keluarga." -Ata-
"Bokapnya kak Ari tuh mikirin anaknya nggak sih? Sering ditinggalin gitu kan kasihan. Pantes aja tuh anak jadi badung banget." -Tari-



0 komentar:
Posting Komentar